NADIKABAR.COM — Museum Nusa Tenggara Barat (NTB) memamerkan 21 artefak budaya untuk memperkenalkan kekayaan warisan budaya daerah kepada wisatawan dan penonton ajang balapan MotoGP 2026 di Sirkuit Mandalika, Kabupaten Lombok Tengah.

"NTB mempunyai kekayaan warisan budaya yang sangat luar biasa, yaitu Sekardiu. Hal ini menyimbolkan kecepatan, energi, dan konektivitas," kata Pamong Budaya Madya Museum NTB Bunyamin saat ditemui saat menata ruang pameran di Sirkuit Mandalika, Lombok Tengah.

Bunyamin mengatakan 21 artefak tersebut berupa satu naskah kuno Jayengrana, wayang Sekardiu dan wayang Jayengrana, enam lukisan, dua pasang Sekardiu, empat cale atau alat pemotong buah pinang berbentuk kuda, serta empat kain tenun.

Sekardiu merupakan salah satu koleksi yang menjadi bagian penting dalam pameran tersebut. Sekardiu adalah hewan mitologi berkepala kuda dan singa, berekor naga, serta bertubuh kuda.

Dalam cerita wayang Sasak, imbuh dia, Sekardiu digambarkan sebagai kendaraan tokoh Jayengrana yang memiliki kecepatan luar biasa. Karakter tersebut kemudian dikaitkan dengan konsep MotoGP yang identik dengan kecepatan, energi, dan konektivitas.

Hewan mitologi itu kini menjelma menjadi sebuah seni tradisi penduduk Suku Sasak di Pulau Lombok yang disebut Jaran Kamput. Dalam bahasa Sasak, jaran berarti kuda dan kamput adalah tunggangan.

Penduduk Sasak saat ini masih menggunakan Jaran Kamput dalam berbagai upacara adat, di antaranya menghibur anak yang akan disunat hingga mengarak pengantin.

"Kami ingin memberikan pesan bahwa Jaran Kamput merupakan warisan budaya yang sangat luar biasa yang bisa dihubungkan dengan kehidupan saat ini," ucap Bunyamin.

Kepala Museum NTB Ahmad Nuralam mengatakan pameran tersebut berlangsung pada 8 hingga 11 Oktober 2026 atau sehari sebelum hingga berakhirnya penyelenggaraan MotoGP Mandalika.

Ruang pameran dibuka mulai pukul 09.00 hingga 17.00 WITA di South Gallery lantai dua gedung Pertamina MotoGP Experience Gallery di kawasan Sirkuit Mandalika.

Nuralam menuturkan pameran itu menjadi bagian dari upaya Museum NTB memperkenalkan kebudayaan daerah kepada pengunjung MotoGP yang datang dari berbagai daerah dan negara.

"Kami harap pengunjung MotoGP mengetahui tentang kebudayaan NTB," papar dia.

Lebih lanjut, Nuralam berharap pengenalan tersebut dapat memperluas wawasan wisatawan mengenai Nusa Tenggara Barat, terkhusus Lombok, sekaligus menunjukkan bahwa wisata olahraga dan wisata budaya dapat berjalan beriringan.

Pameran Museum NTB tahun ini memiliki pendekatan berbeda dibandingkan penyelenggaraan sebelumnya. Pada tahun lalu, Museum NTB lebih banyak menampilkan kekayaan wastra yang dipadukan dengan Gunung Samalas Rinjani dan Gunung Tambora.

Pada 2026, Museum NTB menampilkan ragam koleksi etnografi yang berhubungan dengan balapan MotoGP.

Nuralam menegaskan pihaknya ingin mempertemukan kekayaan budaya masa lalu dengan peristiwa olahraga modern melalui koleksi-koleksi yang memiliki nilai sejarah dan budaya bagi masyarakat Nusa Tenggara Barat.