NADIKABAR.COM — Singapura, (ANTARA/PRNewswire)- Musim Mas mengumumkan rampungnya program kolaborasi selama lima tahun di Subulussalam, Aceh, yang membuktikan bahwa kemitraan rantai pasok dapat meningkatkan kesejahteraan petani swadaya sekaligus turut menekan deforestasi di luar area konsesi. Aceh menjadi salah satu wilayah prioritas karena 87% kawasan Ekosistem Leuser yang kaya keanekaragaman hayati berada di provinsi tersebut.
Inisiatif ini mendapat dukungan dari berbagai mitra rantai pasok, termasuk AAK, melalui pendanaan dan kolaborasi lainnya. Program ini berfokus pada petani swadaya yang mengelola kebun di luar area konsesi perusahaan. Kegiatannya mencakup peningkatan keterampilan, penerapan praktik pertanian yang bertanggung jawab, edukasi keuangan, dan pemantauan lingkungan untuk mengatasi berbagai tantangan yang saling berkaitan, baik di kalangan petani maupun di lingkungan tempat mereka menjalankan usaha.
Program ini merupakan bagian dari Program Petani Swadaya Musim Mas yang membekali petani dengan pelatihan praktik perkebunan berkelanjutan. Musim Mas juga menerapkan pendekatan train-the-trainer bagi Penyuluh Pertanian Lapangan (PPL) pemerintah untuk memperkuat kapasitas dan pengetahuan mereka di tingkat lokal. Selama lima tahun, program ini telah melatih 117 PPL. Dengan dukungan asisten lapangan Musim Mas, para penyuluh tersebut kemudian menjangkau 2.239 petani swadaya di 48 desa. Capaian ini jauh melampaui target awal, yaitu melatih 40 pelatih dan menjangkau 1.000 petani swadaya.
Memperkuat Kapasitas Lokal untuk Mendorong Perubahan Jangka Panjang
Petani swadaya mendapat pelatihan Praktik Pertanian yang Baik (Good Agricultural Practices/GAP) yang selaras dengan prinsip Tanpa Deforestasi, Tanpa Gambut, dan Tanpa Eksploitasi (No Deforestation, No Peat and No Exploitation/NDPE). Program kemudian diperluas dengan modul pelatihan lanjutan bagi PPL dan petani, mencakup keterampilan pembelajaran orang dewasa, berbicara di depan umum, literasi keuangan, dan pengelolaan kebun sawit. PPL juga mendapat pelatihan lanjutan, termasuk persiapan menghadapi persyaratan Minyak Sawit Berkelanjutan Indonesia (Indonesian Sustainable Palm Oil/ISPO), pemahaman tentang kesehatan tanah, dan pembuatan kompos rumah tangga.
Pendekatan ini turut memastikan pengetahuan dan keterampilan terus berkembang di masyarakat setempat sehingga manfaat program tetap berlanjut meski proyek telah berakhir.