Bukan cuma Nagra yang terbawa haru, sutradara Garin Nugroho juga sempat menangis di atas panggung. Ia menyerukan agar peperangan di dunia, termasuk di Gaza, harus dihentikan. Apa yang disampaikan Garin dalam film terbarunya adalah pernyataan untuk menumpas segala kekerasan brutal yang mengatasnamakan sumber daya alam, tanah, hingga agama.

"Merah Sebelum Fajar" mengisahkan Frans (Nicholas Saputra), seorang ahli tambang keturunan Belanda-Indonesia, yang melakukan perjalanan dari Jakarta ke ibu kota sementara di Yogyakarta untuk memberikan dokumen penting demi membantu pemerintahan baru mengelola sumber daya mineral yang melimpah di Tanah Air. Frans tidak pergi sendirian.

Ia diantar Qasim, keturunan India (Bront Palarae) yang gemar mengutip kata-kata sastrawan Rabindranath Tagore, calon perawat keturunan Tionghoa (Laura Basuki), penyanyi keliling (Tissa Biani) serta Arya, teknisi radio tuna netra (Nagra Pakusadewo) yang percaya bahwa nasib rakyat bergantung kepada kemampuan mereka untuk saling berkomunikasi di seluruh penjuru negeri.

Film "Merah Sebelum Fajar" (Red Before Dawn) berlatar Indonesia tahun 1946, setahun setelah proklamasi kemerdekaan, masa transisi yang penuh ketidakpastian dan kekerasan yang masih merajalela karena banyak perebutan kepentingan. Setelah Jepang kalah dalam Perang Dunia II, Belanda kembali ke Indonesia membonceng pasukan Sekutu. Rakyat Indonesia yang sudah menyerukan kemerdekaannya tentu menolak kembalinya kekuasaan kolonial Belanda.