Rano mengatakan Namu Balai Kota direncanakan berlangsung setiap dua pekan sekali sepanjang 2026. Pelaksanaannya akan dievaluasi untuk melihat kekurangan dan kemungkinan perubahan jadwal pada tahun berikutnya.

"Yang pasti kita evaluasi apa kekurangannya. Tapi saya bersyukur, bukan hanya Balai Kota, tapi semua instansi terlibat," ujarnya.

Dalam kesempatan sama, Kepala Dinas Komunikasi, Informatika, dan Statistik (Diskominfotik) DKI Jakarta Marulina Dewi mengatakan Namu Balai Kota dirancang agar kompleks Balai Kota dapat dimanfaatkan masyarakat, termasuk pada akhir pekan ketika sejumlah ruang biasanya tidak digunakan.

"Namu Balai Kota ini merupakan membuka pintu-pintu ruang Balai Kota sebagai ruang publik bagi warga untuk mengenal lebih dekat pusat pemerintahannya, dan dipakai untuk kebutuhan masyarakat Kota Jakarta," tutur Marulina.

Selain paspor, SIM, dan Samsat, Namu Balai Kota menyediakan perpustakaan keliling, pemeriksaan kesehatan gratis, layanan administrasi kependudukan, serta layanan perizinan berusaha. Warga juga dapat mengikuti kegiatan pemilahan sampah, membuka rekening Bank Jakarta, dan mengikuti pelatihan penggunaan alat pemadam api ringan.