"Dari jam 7 di sini. Dari Ciporang. Kuningan, Datang bertiga sama teman teman. Seneng ada budaya gini. Bisa lihat reog kuda. Nggak papa panas panasan juga. Seneng," tutur Andri, Minggu (13/9/2026).
Senada dengan Andri, pengunjung lain, Rahman dari Cirebon memaparkan bahwa ia sengaja datang ke Kuningan untuk menonton karnaval. Meski harus rela panas-panasan dan berjalan kaki cukup jauh dari tempat parkir kendaraan ke pusat acara, Rahman tak masalah. Menurutnya, karnaval tersebut cukup seru dan menampilkan banyak pesan-pesan mengenai lingkungan.
Sementara itu, Bupati Kuningan Dian Rachmat Yanuar memaparkan budaya ini tidak sekadar menjadi hiburan bagi masyarakat, tetapi juga menjadi momentum untuk mengingat kembali perjalanan sejarah dan budaya Kuningan. Menurutnya, masyarakat harus mampu mengikuti perkembangan zaman dan bergerak menuju kemajuan, namun harus tetap menjaga nilai-nilai sejarah, tradisi, dan budaya yang menjadi identitas daerah.
"Tradisi adalah akar, budaya adalah jati diri. Kita boleh modern, tapi kita tidak boleh lupa dan harus tetap mengingat jasa-jasa leluhur. Jati diri, tradisi harus jadi bagian hidup kita, masa lalu, masa sekarang, dan masa yang akan datang," pungkas Dian.