"Nah dia (kakaknya balita kembar) teriak-teriak, 'Ada api!', di situ (warga tahu ada kebakaran)," jelas Marzuki.
Selaku Ketua RT, Marzuki pun langsung bergegas menelepon petugas damkar hingga pemadam. Dia pun membagi tugas warganya untuk mengecek rumah balita kembar tersebut serta mengambil air untuk upaya pemadaman awal.
"Langsung dibongkar sama warga tuh (pintu rumah). Langsung dibongkar, nah dia (kakaknya balita kembar) keluar," ujar Marzuki.
Saat itu, kata Marzuki, masih belum ada warga yang ingat bahwa di dalam rumah ada si balita kembar akibat kepanikan saat itu. Sampai akhirnya petugas damkar tiba, baru lah semua pihak teringat masih ada si balita kembar di dalam rumah.
"Kita enggak ngeh yang dua itu loh, kita enggak ngeh si kembar itu. Akhirnya (kakak si balita kembar) bilang, 'ada dua, ada adik, ada adik!', nah balik (warga) yang satu, langsung tuh masuk ke dalam (rumah)," terangnya.
Namun akibat api yang sudah semakin besar menimbulkan hawa panas dan meruntuhkan sebagian atap, hanya satu dari si balita kembar yang perempuan berhasil diselamatkan. Sementara kembarannya, si balita laki-laki, tidak bisa terselamatkan.