NATO, sejumlah negara Eropa, dan Inggris telah menuduh Rusia melancarkan perang hibrida terhadap mereka, termasuk serangan siber, sabotase, dan upaya spionase yang bertujuan untuk mematahkan dukungan mereka terhadap Ukraina.

Perang Rusia di Ukraina kini telah memasuki tahun kelima, namun Putin tidak menunjukkan tanda-tanda akan mengendurkan serangannya. Sebaliknya, ia justru meningkatkan serangan terhadap infrastruktur energi Ukraina dan ibu kotanya, Kyiv, menjelang musim dingin yang diperkirakan akan sangat menggigit.

Ukraina diketahui juga telah menyerang kilang minyak Rusia hingga menyebabkan kelangkaan bahan bakar secara luas. Antrean panjang kendaraan terjadi di berbagai SPBU di kota-kota besar, sementara serangan terhadap perusahaan ritel daring terbesar Rusia turut menambah tekanan pada perekonomian masa perang yang sudah berada dalam kondisi sulit.

Dalam pidatonya pada hari Kamis (1/10) di hadapan para akademisi bidang kebijakan luar negeri dan hubungan internasional, Putin mengakui bahwa serangan Ukraina berdampak buruk terhadap perekonomian Rusia. Dia menyebut serangan tersebut telah memangkas 1 persen dari produk domestik bruto (PDB) Rusia dan menyatakan bahwa manuver militer Ukraina di Laut Hitam telah melumpuhkan lebih dari 100 kapal Rusia.

Namun, Putin juga menegaskan bahwa ia tidak gentar.