NADIKABAR.COM — Di usia 52 tahun, Rosmin Longka sangat memahami arti sebuah perjuangan.

Sebagai ibu tunggal, hidup baginya bukan sekadar bertahan untuk diri sendiri, melainkan memastikan kedua buah hatinya mendapatkan kehidupan yang layak. Mulai dari sandang, pangan, papan, hingga pendidikan, semuanya ia pikul seorang diri.

​Demi menanggung semua kebutuhan itu, Rosmin bekerja di sebuah pabrik pengolahan ikan di Kota Bitung, Sulawesi Utara. Hari-harinya dihabiskan dalam kerja keras demi mengumpulkan rupiah demi rupiah. Baginya, lelah adalah risiko perjuangan yang harus dilalui, sebab ada dua masa depan yang menjadi alasan terbesarnya untuk terus melangkah.

​Rutinitas di pabrik tersebut membuat Rosmin kerap berinteraksi dengan para anak buah kapal (ABK) dari berbagai daerah, termasuk mancanegara. Di tengah kesibukan itulah, sebuah pertemuan tak terduga terjadi.

​Rosmin berkenalan dengan seorang ABK berkebangsaan Filipina bernama Edward Fannis (55). Pertemuan yang bermula dari lingkungan kerja itu perlahan merajut kisah baru bagi dua insan dengan latar belakang kehidupan yang berbeda.