Pernyataan itu bertentangan dengan keterangan Brigadir Jenderal Hossein Mohebbi, juru bicara Garda Revolusi Iran, yang mengatakan Iran dan Oman telah "mencapai hasil yang dapat diterima oleh kedua pihak" terkait pengendalian selat dan pendapatannya.
Sementara itu, Wakil Menteri Luar Negeri Iran Kazem Gharibabadi mengatakan pada Selasa (25/8) bahwa kapal komersial menuju Teluk Persia akan melewati perairan Iran, sementara jalur keluar sebagian melalui perairan Iran dan Oman. Menurut Gharibabadi, pengaturan tersebut bersifat sementara. Iran dan Oman akan membahas rencana lalu lintas maritim permanen dalam 30 hingga 60 hari. Kapal militer juga tidak akan diizinkan melintasi selat berdasarkan pengaturan tersebut.
Perselisihan mengenai Hormuz berlangsung ketika Washington tampaknya menggeser tekanan terhadap Teheran dari operasi militer menuju langkah-langkah ekonomi.
Reuters melaporkan bahwa militer AS melalui Central Command tidak melaporkan serangan terhadap Iran selama hampir satu bulan, sementara Washington berencana meningkatkan sanksi terhadap mitra dagang Iran.
Di sisi lain, juru bicara Garda Revolusi Iran Hossein Mohebbi mengatakan Selat Hormuz akan tetap ditutup sampai AS memenuhi tuntutan Teheran berdasarkan nota kesepahaman atau gencatan senjata sementara yang ditandatangani pada Juni sebelum kemudian runtuh.
Persyaratan tersebut mencakup penghentian blokade AS terhadap pelabuhan Iran, kompensasi, dan pencabutan sanksi.
Iran juga mengecam ancaman sanksi terbaru AS. Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araghchi dalam surat kepada PBB pada Selasa mendesak organisasi tersebut mengutuk langkah Washington yang menurutnya bertujuan memutus Teheran dari ekonomi global.