Serangan ekonomi tersebut, kata Araghchi, merupakan "penargetan yang disengaja terhadap warga sipil Iran" melalui pembatasan akses terhadap makanan, obat-obatan, peralatan medis, energi, dan kebutuhan lainnya.

"Diam dalam menghadapi pemaksaan sistematis semacam itu berisiko semakin menormalisasi pelanggaran Piagam PBB dan prinsip-prinsip hukum internasional," tulis Araghchi dalam surat yang diperoleh The Associated Press.

Upaya Qatar berlangsung ketika kondisi di Selat Hormuz masih belum kembali normal. Organisasi Maritim Internasional PBB melaporkan 70 insiden di selat tersebut sejak 28 Februari yang menewaskan 19 pelaut, menurut Reuters.

Teheran dan Washington disebut berupaya menegaskan kendali atas Selat Hormuz dengan menerapkan blokade masing-masing. Meski kekuatan konvensional Iran melemah akibat serangan udara, Teheran masih memiliki kemampuan rudal dan drone untuk mengancam negara-negara Teluk serta kapal tanker.

Menurut AP, Iran dan Oman telah mencapai kesepakatan potensial untuk mengatur lalu lintas kapal tanpa kapal militer. Namun, Reuters melaporkan rincian kesepakatan masih dibahas.

Di tengah kebuntuan itu, Qatar berupaya menghidupkan kembali diplomasi. Trump mengatakan kepada Al Jazeera bahwa ia tidak terburu-buru melanjutkan pembicaraan dengan Iran. "Saya tidak punya jadwal; apa pun yang diperlukan," katanya.