Banyak ilmuwan sepakat bahwa perubahan iklim meningkatkan kemungkinan dan memperparah kejadian cuaca ekstrem. Namun, untuk memastikan hubungan sebab-akibat antara satu bencana tertentu dan pemanasan global, biasanya diperlukan kajian atribusi yang lebih rinci.
Para peneliti cenderung melihat kombinasi sejumlah faktor, termasuk kerusakan gletser dan lapisan permafrost, kondisi cuaca ekstrem serta kerentanan geologis.
Namun, pemerintah Nepal tetap meyakini hubungan tersebut jelas.
"Kami adalah contoh nyata dan dunia sedang mengawasi kami," kata Chaudhary kepada DW.
Pernyataan menteri tersebut disampaikan ketika Nepal berupaya membangun dukungan menjelang COP31, konferensi iklim tahunan PBB yang akan digelar di Turki pada November.
Ketika ditanya mengenai rencana pemerintahnya untuk konferensi tersebut, Chaudhary mengatakan, "Nepal tidak akan lagi bernegosiasi berdasarkan janji yang samar atau bantuan pembangunan tradisional yang bergerak lambat."
Menurut Chaudhary, Nepal akan mendorong pengakuan yang lebih besar terhadap tantangan khusus yang dihadapi negara-negara pegunungan. Menurutnya, pembahasan iklim global sering mengabaikan risiko yang dihadapi kawasan Himalaya.
"Persoalan pegunungan perlu dibahas," katanya. "Dunia perlu melihat kami sebagai negara-negara yang menjadi korban. Kami yang membayar harganya."
Chaudhary juga mengatakan Nepal mendapat dukungan kuat dari negara-negara rentan lainnya dalam pertemuan negara-negara Least Developed Countries (LDCs) di Timor-Leste baru-baru ini.
"Semua negara LDC berdiri bersama kami. Mereka sangat prihatin," katanya.
Pemerintah Nepal berencana membawa persoalan perubahan iklim tersebut ke Sidang Umum PBB, dengan menyoroti bencana terbaru dan menyerukan dukungan konkret dari masyarakat internasional.
Skala bencana juga memicu evaluasi di dalam Nepal, terutama terhadap sistem peringatan dini dan respons bencana negara tersebut.