Warga di sejumlah wilayah terdampak mengeluhkan peringatan yang datang terlambat atau tidak menggambarkan besarnya ancaman.

Chaudhary membela respons pemerintah, tetapi mengakui sistem yang ada kewalahan menghadapi skala bencana.

"Kami sudah mengirimkan pesan dan informasi kepada mereka," katanya. "Namun, situasinya sungguh di luar dugaan."

Ia mengakui sistem peringatan dini Nepal perlu diperbaiki dan mengatakan pemerintah kini meninjau serta memperkuat mekanisme pemantauan yang ada.

"Departemen hidrologi dan meteorologi kami sedang mengerjakannya," ujarnya.

Banjir tersebut juga menyoroti pentingnya kerja sama antara Nepal dan negara-negara tetangganya, terutama China, dalam memantau sistem sungai dan bahaya gletser yang melintasi perbatasan.

"Kami bekerja sama secara erat," kata Chaudhary. Ia menambahkan bahwa tim teknis dari kedua negara berbagi informasi dan mengkaji risiko di masa mendatang.

Bagi Chaudhary, bencana tersebut bukan hanya tragedi nasional, tetapi juga peringatan tentang masa depan.

"Salju kami mencair, dan danau-danau kami berada dalam bahaya," kata menteri tersebut.

Ia memperingatkan bahwa negara-negara rentan dapat menghadapi bencana yang semakin parah jika pemanasan global tidak dibatasi sesuai dengan target Perjanjian Paris 2015.

Ketika ditanya apakah dunia sudah bergerak cukup cepat, Chaudhary menjawab: "Saya rasa belum."

Artikel ini pertama kali terbit dalam bahasa Inggris