Sebaliknya, jika Netanyahu kalah, Asra melihat adanya peluang perbaikan kondisi Palestina. Meskipun, kata dia, dampaknya tidak akan langsung mengubah situasi secara menyeluruh.

"Kalau kalah, ada kemungkinan kondisi lebih baik sedikit, tapi tidak akan berubah total. Solusi dua negara masih sulit. Walaupum secara kawasan mungkin ada dinamika positif hubungan dengan negara-negara di kawasan," jelasnya.

Meski begitu, dia mengatakan pemilu Israel bukan satu-satunya faktor yang menentukan masa depan Palestina. Pengaruh aktor eksternal, kata dia, terutama Amerika Serikat (AS), serta hubungan antarkelompok domestik di kedua pihak turut memengaruhi arah konflik.

"Perlu dicatat bahwa pemilu Israel bukan satu-satunya penentu utama konflik di Palestina. Faktor eksternal seperti AS, relasi kelompok-kelompok domestik di kedua negara juga berpengaruh," paparnya.

"Butuh waktu. Kalau Netanyahu kalah pun tidak mungkin akan terjadi perubahan drastis itu," imbuh dia.