NADIKABAR.COM — Penerbangan pesawat flydubai tujuan Israel dari Dubai, Uni Emirate Arab (UEA), tiba-tiba dialihkan ke Arab Saudi. Perdana Menteri (PM) Israel Benjamin Netanyahu menyebut sang pilot hendak menjatuhkan pesawat dan membunuh para penumpangnya.

Dilansir AFP, Rabu (30/9/2026), para penumpang memberikan keterangan serupa mengenai insiden di dalam pesawat. Mereka menggambarkan adanya perebutan kendali setelah pesawat tiba-tiba menukik tajam, kehilangan ketinggian sekitar 17.000 kaki dalam waktu satu menit, menurut situs web Flightradar24.

flydubai menyatakan seluruh penumpang 174 orang, di mana 166 orang di antaranya adalah warga Israel, dalam keadaan selamat. Dalam pernyataannya, flydubai juga belum mengetahui penyebab keributan di dalam pesawat.

Seorang penumpang mengatakan kepada AFP rombongan tersebut telah melanjutkan perjalanan ke Tel Aviv setelah sempat menunggu di Tabuk, Arab Saudi.

"Selama penerbangan, saat mereka mendekati negara tujuan, salah satu pilot menikam pilot lainnya dan tampaknya mencoba menjatuhkan pesawat beserta seluruh orang di dalamnya," ujar Netanyahu dalam sebuah pesan video.

Netanyahu mengaku telah berbicara dengan seorang penumpang asal Israel yang menerobos masuk ke kokpit saat pesawat mulai menukik dan bergulat melawan pilot yang berusaha menjatuhkan pesawat tersebut.

"Saya memberikan penghormatan kepada para pahlawan ini, yang menunjukkan kecerdikan dan keberanian luar biasa. Mereka menyelamatkan banyak nyawa; mereka mencegah terjadinya bencana besar," kata Netanyahu.

Menurut maskapai, penerbangan tersebut dialihkan rutenya ke Tabuk pada pukul 09.45 waktu setempat, dan kapten serta kopilot ditemukan mengalami luka-luka lalu dilarikan ke rumah sakit.

Penumpang bernama Miryam Shira Ohayon mengatakan pesawat itu hampir kehilangan kendali saat insiden penusukan terjadi di wilayah udara Yordania, dalam perjalanan dari Dubai menuju Tel Aviv.

"Kopilot mencoba membunuh pilot dan pada dasarnya melakukan aksi bunuh diri menggunakan pesawat tersebut," ujarnya kepada wartawan melalui sambungan telepon yang dipegang oleh ibunya, yang sedang menanti kedatangannya di Bandara Ben Gurion dekat Tel Aviv.

"Pesawat itu benar-benar nyaris jatuh, dan hanya berkat kesigapan banyak orang yang berhasil mengendalikan kopilot serta melumpuhkannya, situasi bisa teratasi," katanya.

"Ada juga seorang dokter yang memberikan pertolongan pertama, serta orang-orang yang merawat keduanya. Selain pilot, tidak ada korban luka lain, namun ketakutan terbesar saat itu adalah pesawat akan jatuh-yang memang merupakan tujuan tindakan pelaku," tambahnya.

Sebuah video dari dalam pesawat yang diunggah ulang oleh pengguna media sosial Israel, seorang penumpang dengan darah yang mengucur karena luka terbuka di kepalanya memohon bantuan dan mengatakan pesawat sedang turun menuju Arab Saudi, negara yang tidak memiliki hubungan diplomatik dengan Israel.

"Kami sedang mengalami serangan di dalam pesawat. Kami baru saja melumpuhkan teroris tersebut dan bersiap untuk mendarat," ujar pria itu dalam bahasa Ibrani.

"Siapa pun yang mendengar saya, kami butuh bantuan. Kami akan mendarat di Tabuk, yang tampaknya berada di Arab Saudi. Sebuah wilayah yang asing. Semua penumpang selamat dan baik-baik saja, kecuali pilot. Kami butuh bantuan," kata pria tersebut.

Ibu Ohayon, Yasmin Abukasis, mengatakan putrinya menaiki penerbangan tersebut untuk menghadiri upacara peringatan bagi saudaranya yang tewas dalam serangan Hamas pada 7 Oktober 2023.

"(Putri saya) mengira mereka akan mati," ujar Abukasis kepada AFP, seraya menambahkan bahwa seorang wanita sempat "pergi ke arah (kokpit) dan melihat banyak darah". Dia mengatakan ada dua pilot lain di dalam pesawat yang mengambil alih kendali dan mengalihkan penerbangan ke Arab Saudi.