Secara lengkap, hasil akhir yang diumumkan CEC menunjukkan perolehan kursi sebagai berikut: Partai Likud 27 kursi, Partai Yashar 21 kursi, B'Yachad 12 kursi, Joint List 11 kursi, Partai Demokrat 8 kursi, Partai Ra'am 8 kursi, Yisrael Beytenu 7 kursi, United Torah Judaism 7 kursi, Otzma Yehudit 7 kursi, Shas 6 kursi, dan Religious Zionism 6 kursi.
Koalisi Netanyahu terdiri atas Partai Likud, Shas, United Torah Judaism, Otzma Yehudit dan Religius Zionism. Sedangkan kubu oposisi terdiri atas Partai Yashar, B'Yachad, Partai Demokrat, dan Yisrael Beytenu.
Dengan perolehan total 53 kursi parlemen, koalisi Netanyahu memang unggul tipis atas kubu oposisi. Namun perolehan itu masih jauh dari ambang batas 61 kursi parlemen untuk mencapai mayoritas parlemen dan membentuk pemerintahan.
Di sisi lain, keberhasilan partai-partai Arab Israel, terdiri atas Joint List dan Partai Ra'am, untuk memperoleh total 19 kursi parlemen telah menorehkan rekor tertinggi sepanjang sejarah. Perolehan itu mencapai hampir dua kali lipat dibandingkan 10 kursi parlemen yang mereka pegang saat ini.
Perolehan tersebut sebenarnya lebih dari cukup untuk membawa kubu oposisi yang anti-Netanyahu mencapai mayoritas parlemen yang kuat, jika saja mereka tidak menutup kemungkinan untuk berkoalisi dengan Joint List dan Partai Ra'am.
Partai-partai Arab Israel yang berpotensi menjadi penentu dalam negosiasi koalisi selanjutnya, menjadi sasaran tuduhan kecurangan pemilu -- yang belum terbukti -- yang disebarkan oleh kubu Netanyahu pada Kamis (29/10) malam.