Dampak lainnya adalah terputusnya konektivitas habutat. Kebakaran memicu fragmentasi hutan yang membuat wilayah jelajah makin sempit dan terisolasi.
Selain itu, tingginya risiko konflik dengan manusia. Kelaparan memicu orang utan keluar dari hutan menuju pemukiman warga atau perkebunan, yang meningkatkan risiko perburuan hingga pembunuhan satwa.
Asap karhutla juga menimbulkan gangguan kesehatan dan stres kritis. Paparan asap tebal dan kehilangan tempat tinggal memicu stres berkepanjangan yang merusak sistem kekebalan tubuh mereka.
Kondisi musim kemarau yang diperparah fenomena El Nino serta rusaknya ekosistem gambut-yang mencapai 4,5 juta hektar di Kalimantan-membuat vegetasi kering menjadi sangat mudah terbakar dan sulit dipadamkan.
Annisa memperingatkan bahwa jika pemadam karhutla dan pemulihan ekosistem tidak segera ditangani secara serius, Indonesia sedang mengarah pada ancaman kepunahan massal satwa langka itu.
"Jika kita tidak segera menghentikan rantai bencana karhutla ini, sama saja kita sedang menyaksikan pembunuhan massal orang utan secara perlahan," kata Annisa.