Ancaman bencana api itu bukan sekadar teori. Center for Orangutan Protection (COP) merasakan langsung mencekamnya karhutla di dua lokasi fasilitas rehabilitasi mereka di Kabupaten Berau, Kalimantan Timur, yang dihuni total 18 individu orang utan.
Di Kampung Tasuk, kawasan gambut dan rawa di sekitar lokasi rehabilitasi sempat terbakar selama tiga hari sebelum akhirnya berhasil dipadamkan berkat bantuan petugas pemadam dan perusahaan lokal.
Kondisi yang jauh lebih mengkhawatirkan terjadi di Hutan Labanan-lokasi rehabilitasi seekor orang utan bernama Ambon. Pada 24 Agustus, titik api terdeteksi hanya berjarak 1,3 kilometer dari keberadaan Ambon, dan kian memanjat mendekat hingga tersisa 550 meter pada hari berikutnya.
"Abu sisa kebakaran sempat beterbangan sampai ke area kandang Ambon, meski jumlahnya masih tersaring. Beruntung, berkat kerja sama dengan Manggala Agni dan BP2SDM, api berhasil dipadamkan. Kondisi Ambon saat ini masih sehat dan terpantau normal," kata Manajer Komunikasi COP, Wahyuni.
Sebagai langkah antisipasi jika situasi memburuk, COP telah menyiagakan skenario evakuasi darurat bagi Ambon menuju fasilitas di Kampung Tasuk, lengkap dengan penyediaan kolam air, kandang angkut, hingga tim dokter hewan.
Wahyuni mengingatkan bahwa padamnya api tidak serta-merta mengakhiri ancaman bagi orang utan. Bencana sesungguhnya justru baru dimulai usai kebakaran. Sejumlah masalah itu di antaranya perebutan sumber makanan dan potensi konflik dengan warga.