NADIKABAR.COM — Aliran Sungai Cileungsi di Desa Limusnunggal, Kecamatan Cileungsi, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, tampak berwarna hitam pekat menyerupai oli. Warga berharap biang kerok dari pekatnya warna di aliran sungai tersebut diketahui.

Pantauan NadiKabar, Selasa (20/10/2026), air sungai terlihat menghitam di sekitar kawasan aktivitas warga, termasuk permukiman. Sungai Cileungsi sendiri mengalir melintasi wilayah Bogor hingga Bekasi.

Bau tidak sedap tercium dari aliran sungai. Aroma tersebut juga bercampur dengan bau sampah yang menumpuk di sekitar sungai.

Warga yang tinggal di dekat aliran sungai mengaku terganggu oleh bau menyengat yang muncul setiap hari. Salah satunya Monita, yang rumahnya berjarak kurang dari 100 meter dari sungai.

Monita mengatakan bau tersebut kerap mengganggu aktivitasnya, terutama pada malam hari ketika aromanya semakin menyengat.

"Kebetulan rumah saya jaraknya dengan sungai itu dekat ya, nggak nyampe 100 meter. Nah, dampak yang langsung yang saya rasakan itu memang bau yang sangat menyengat, dan itu setiap hari," kata dia.

Akibat kondisi tersebut, Monita mengaku harus menutup pintu rumahnya untuk mengurangi bau yang masuk. Niatnya menghirup udara segar pada pagi hari, justru disambut aroma tak sedap dari sungai.

"Setiap buka pintu, niatnya pagi-pagi mau cari udara segar, yang ada langsung bau gitu ya. Dan itu semakin malam itu semakin menyengat," jelasnya.

Udara terganggu itu membuat tenggorokannya tidak nyaman. Monita merasa seperti gatal dan penuh dengan dahak.

"Nah, yang kedua memang akhirnya kerasa tidak nyaman di tenggorokan, karena bau yang terus-menerus menyengat akhirnya tenggorokan itu menjadi seperti gatal, terus penuh dengan dahak," tuturnya.

"Padahal kondisi tidak sedang radang, tidak sedang influenza, tidak sedang batuk, tapi dahak itu selalu ada gitu ya. Nah, saya curiganya ya itu efek langsung dari pencemaran polusi di Sungai Cileungsi itu ya," sambung Monita.

Masyarakat berharap permasalahan aliran Sungai Cileungsi yang menghitam tidak berlarut-larut. Sebab, menurutnya, pemerintah daerah telah menemukan biang kerok sungai tersebut menghitam.

"Ya saya sih berharap masalah ini nggak berlarut-larut, terselesaikan, cukup tahun ini aja yang parah, ke depannya tidak lagi karena udah Pak Bupati udah turun dan menemukan berapa perusahaan yang melanggar, melebihi batas limbahnya yang dibuang ke Sungai Cileungsi itu," kata Ketua RW setempat bernama Endang Jamhari.

Endang sendiri kerap menerima keluhan beberapa warga terkait aliran sungai yang menghitam dan berbau itu. Terutama, ketika musim kemarau tiba.

"Ya saya sampaikan, memang kita, saya sebagai Ketua RW sudah koordinasi ke desa, koordinasi ke paguyuban. Kita udah koordinasi, kita udah bertindak ke DLH (Dinas Lingkungan Hidup), gitu kan," ucapnya.

Menurutnya, warga merasakan sangat terganggu oleh aroma tidak sedap menyengat yang kerap muncul. Bahkan, menurutnya, aroma tersebut bisa tercium hingga radius 2 km.

"Keluh-keluhan itu memang baunya tuh sangat menyengat dan mengganggu sekali. Bahkan ada yang dekat rumah itu mereka nggak berani buka pintu, karena baunya minta ampun. Baunya tuh sampai ya 1 km, 2 km menyengatnya," bebernya.

Selain itu, keluhan dirasakan oleh para pelaku UMKM di dekat aliran sungai. Mereka mengeluh pengunjung berkurang karena aroma tidak menyengat itu.

"Dan dampaknya juga bukan hanya ke warga, tetapi ke pelaku UMKM yang ada di sepanjang sungai ini. Ini semua pelaku usaha tuh mengeluh bahwa yang pengunjung yang biasa ramai, jadi berkurang. Yang biasa makan di tempat, tidak makan tempat, bungkus, jalan," pungkasnya.

Bupati Bogor Rudy Susmanto menanggapi kondisi aliran Sungai Cileungsi yang menghitam. Dia mengatakan pihaknya telah menindaklanjuti laporan tersebut.

"Kemarin kami mendapatkan laporan, maka hari ini dan kemarin sore Dinas Lingkungan Hidup langsung melakukan langkah-langkah tindak lanjut," kata Rudy Susmanto.

Pihaknya telah dikerahkan untuk menginventarisasi saluran pabrik yang diduga menjadi pemicu pencemaran air sungai tersebut. Beberapa saluran juga telah ditutup.

"Jadi dari kemarin kita sudah melakukan penataan beberapa saluran-saluran yang tidak memiliki izin kami sudah melakukan penutupan, tapi jumlah pabriknya ratusan," ucapnya.

"Kami terus melakukan inventarisir dan juga di akhir tahun ini kami, Pemerintah Kabupaten Bogor, membangun beberapa IPAL (instalasi pembuangan air limbah)," tambah dia.

Menurutnya, beberapa saluran air bukan hanya berasal dari kawasan industri. Ada pula saluran dari sejumlah tempat yang dilalui sebelum memasuki aliran Sungai Cileungsi.

"Kami berharap mudah-mudahan ada solusi terbaik, ada langkah-langkah cepat, sehingga pencapaian sungai Cileungsi yang sudah terjadi belasan tahun, bahkan puluhan tahun, dapat tuntas dalam waktu beberapa saat," ujarnya.

Terkait penutupan saluran limbah, Rudy mengatakan ada beberapa perusahaan berskala multinasional yang perizinannya berada di bawah kewenangan pemerintah pusat.

"Ada perizinan-perizinan yang merupakan kewenangan dari pemerintah kabupaten. Kami pun kemarin sudah melakukan hubungan bersama dengan beberapa perusahaan. Kami menyampaikan bahwa kami sayang terhadap masyarakat kita juga yang bekerja di sana, tapi perusahaan juga harus sayang terhadap lingkungan yang ada, maka kita harus cari solusi bersama-sama," terangnya.

Dia telah meminta perusahaan itu untuk memperbaiki saluran limbahnya. Sebab, permasalahan di Sungai Cileungsi sudah terjadi berlarut-larut.

"Ini bukan kejadian yang terjadi satu atau dua hari kemarin, bukan satu tahun, dua tahun kemarin, tapi sudah cukup lama," pungkasnya.