Dari 19 orang yang ditangkap, tiga di antaranya diduga melakukan pembacokan. Sementara satu orang yang melakukan penyiraman air keras masih diburu dan masuk dalam daftar pencarian orang (DPO).
Nasriadi menjelaskan dari 19 orang yang ditangkap, tiga di antaranya merupakan pelaku utama. Ketiga pelaku tersebut berperan melakukan pengeroyokan terhadap korban yang berujung tewas.
Selain pelaku tawuran, beberapa yang diamankan di antaranya merupakan admin medsos. Admin ini bertugas menyiarkan tawuran secara langsung dan menyebarluaskan di jaringan media sosial.
"RM ini adalah sebagai admin dari medsos yang namanya Samudra. Dia adalah aktor intelektualnya yang mengajak, yang memposting, memprovokasi, kemudian melakukan bujuk rayu, dan salah satu pelaku, dia juga pelaku pembacokan tersebut yang mengakibatkan korban meninggal dunia, ini adalah orangnya," jelasnya.
"Sedangkan ini adalah namanya A, dia adalah admin dari medsos namanya Batavia. Juga mengajak, mengajak kawan-kawannya, mengajak anak-anak. Jadi mereka berdua ini adalah admin, mengajak anak-anak untuk melakukan tawuran. Dan dua admin lagi adalah anak-anak yang mereka berhadapan dengan hukum," imbuhnya.
Nasriadi mengatakan, keempat gangster itu mempunyai media sosial. Tawuran berawal dari ajakan melalui media sosial, dengan berbagai macam kode mulai dari 'berangkat' hingga 'serang'.
"Mereka memposting, kemudian mengajak teman-temannya untuk bersama, untuk saling serang antar 4 geng tersebut. Tujuannya adalah mereka melakukan live studio live video untuk tujuan-tujuan tertentu dan meng-upload setiap kegiatan-kegiatan," kata dia.
"Setiap kejadian-kejadian, setiap pembantaian dan pembacokan mereka upload di Instagram yang ada di mereka pegang sebagai adminnya," imbuhnya.