Kasat Reskrim Polres Metro Jakarta Barat AKBP Edy Sudarma Korniawan menambahkan aksi tawuran disiarkan langsung (live streaming). Motifnya, kata Edy, hanya sekadar eksistensi gangster mereka.
"Kemudian live di media sosial, kemungkinan untuk apa, motifnya untuk jati diri, kemudian juga mendapatkan pengakuan gitu ya, uang mungkin ya dari itu ya, dari media sosialnya untuk live itu ya," tuturnya.
Polisi mengungkap cara gangster di Jakarta Barat merekrut anak di bawah umur untuk ikut tawuran hingga berujung satu orang tewas. Polisi mengungkap admin media sosial gangster yang punya peran penting dalam perekrutan.
"Jadi si admin sinilah yang berperan mencari akun tetangga-tetangganya yang kira-kira mau masuk, dia akan undang. Pasti ada dapat undangan accept dong, atau menerima dong. Nah, undangan-undangan dia yang dia terima itu akan menjadi kelompoknya dia," kata Kombes Nasriadi.
Setelahnya, kata Nasriadi, ada praktik pencucian otak kepada para anak agar mereka bangga ketika bisa menang saat berhadapan dengan tim lawan. Anak-anak itu menjadi korban eksploitasi untuk menaikkan rating akun gangster itu.
"Orang-orang seperti ini mereka mencari keuntungan. Yang mempunyai akun atau admin medsos mencari keuntungan. Apa keuntungan? Ya, bisa live, mungkin akan dapat saweran, atau meng-upload gambar-gambar yang sangat-sangat tidak beretika, atau gambar-gambar misalnya orang luka, gambar-gambar ketika tawuran dengan hari itu banyak follower dan sebagainya," kata dia.
"Sedangkan yang lain-lainnya adalah jiwa-jiwa korsa yang dibentuk secara negatif. Artinya, mereka terbentuk dalam satu kelompok medsos tersebut, mereka terkumpul dalam tersebut dan mereka melakukan apa yang diinginkan oleh si admin," imbuhnya