Sementara itu, wilayah Malaysia menempati posisi kedua terbesar karena didorong oleh besarnya populasi warga negara Indonesia yang tercatat menetap di sana.

"Dan kalau di Malaysia, kurang lebih 2,54 juta diaspora kita di sana yang tercatat. Nah, tentu kita lihat ekspornya juga tinggi ke sana," tambah Deden.

Kementerian Perdagangan saat ini tengah mengembangkan sektor industri pangan Indonesia untuk menangkap peluang ekonomi makro di pasar kuliner dunia yang sedang tumbuh dengan laju kenaikan tahunan sebesar 6,9 persen.

"Kalau kita melihat kondisi pangan atau kondisi pasar kuliner dunia saat ini kurang lebih 4,3 triliun dolar AS, besar sekali Bapak Ibu. Dan pertumbuhannya kurang lebih 6,9. Dan pada tahun 2031 itu kemungkinan akan mencapai sekitar 7,6 triliun dolar AS. Jadi sangat besar sekali bahwa pasar makanan minuman, terutama di Indonesia dan selamanya tentu melalui kegiatan-kegiatan kuliner yang dilaksanakan pada pagi hari ini," urai Deden.

Kementerian perdagangan menindaklanjuti strategi pengembangan industri pangan tersebut dengan mengoptimalkan program payung nasional terintegrasi untuk mempromosikan bisnis kuliner lokal di luar negeri lewat program S'RASA Kemendag.