Lokasi tokonya yang berada di wilayah Inggris, tapi berbatasan langsung dengan Republik Irlandia memungkinkannya memasok buku secara legal dari distributor Irlandia, di mana organisasi Palestine Action tidak dilarang.

"Kami tidak dilarang menjual buku-buku tersebut. Kami masih bisa mengaksesnya," ungkap Doherty kepada AFP.

Ia kini melayani pesanan novel-novel itu untuk para pembaca yang tersebar di berbagai tempat, termasuk menjangkau pembeli di wilayah Inggris.

Alih-alih meredupkan popularitas sang penulis, polemik pembatasan ini justru mendongkrak angka penjualan secara gila-gilaan.

Toko buku Kenny's di Galway bahkan melaporkan lonjakan pembelian novel-novel Rooney hingga sepuluh kali lipat tak lama setelah Faber menarik jalur distribusi.

Buku-buku Rooney kini sengaja dipajang secara mencolok di meja depan toko Doherty dan sukses memancing atensi banyak warga.

"Saya kedatangan banyak pelanggan baru yang belum pernah berkunjung sebelumnya," ujarnya. "Buku yang dilarang justru menjadi buku yang dibeli."

Namun, bagi Doherty, kontroversi pelarangan distribusi sastra ini membangkitkan memori suram tentang sejarah penyensoran penulis di Irlandia pada masa lalu.