"Rasanya kita justru mundur ke belakang, bukan melangkah maju," keluhnya.
Di sisi lain, sikap berbeda ditunjukkan oleh toko buku Bard Books di London. Setelah stok fisik novel Rooney di sana ludes terjual dalam beberapa hari, mereka memutuskan setop mendatangkan pasokan tambahan demi solidaritas, sejalan dengan langkah yang diambil Faber.
Perwakilan Bard Books, Vicki Shenkin Kerr, tak memungkiri daya pikat sang penulis karena sukses menangkap esensi zaman saat ini dengan gaya khasnya.
Meski begitu, ia sepakat bahwa pihak toko tidak nyaman meraup untung dari penjualan buku jika penulisnya sendiri tak bisa menerima royalti tersebut.
"Ini terasa seperti sebuah upaya pembungkaman," tegas Kerr.
Sementara distribusi buku Rooney di Inggris masih tersendat, nasib pelarangan terhadap kelompok Palestine Action kini tengah diperjuangkan di meja hijau.
Salah satu pendiri kelompok tersebut, Huda Amorim, tengah menempuh jalur hukum dan dijadwalkan menjalani sidang banding di Mahkamah Agung Inggris pada Rabu dan Kamis pekan ini.