Ketelitian menjadi kunci. Sedikit saja salah dalam memotong atau merakit bahan, bentuk mainan bisa berubah dan hasil akhirnya tidak sesuai harapan.

"Semua masih dibuat secara konvensional. Jadi memang membutuhkan ketelitian dan kecepatan," katanya.

Untuk menghasilkan sekitar tiga kodi mainan, Suhendra bersama para pekerjanya membutuhkan waktu kurang lebih satu minggu. Dalam proses tersebut, mereka harus melewati sejumlah tahapan, mulai dari pemotongan bahan, penjahitan, perakitan hingga pewarnaan.

Jika dilihat dari bahan awalnya, mainan tersebut mungkin tampak sederhana. Namun setelah melalui tangan para perajin, potongan-potongan limbah itu berubah menjadi mainan tradisional yang memiliki karakter tersendiri.

Warna-warni yang menghiasi setiap mainan membuat bentuk ayam, barongsai maupun naga terlihat lebih hidup. Kesederhanaan bahan justru menjadi kekuatan tersendiri karena menghasilkan produk yang unik dan berbeda dari mainan modern.

Menariknya, pasar mainan tradisional buatan Suhendra tidak hanya berada di sekitar Cirebon. Produk tersebut telah dipasarkan ke berbagai daerah di Indonesia.

Pesanan datang dari sejumlah wilayah di Jawa Tengah, Jawa Timur, Jabodetabek hingga Sumatera dan Kalimantan.

Dengan harga sekitar Rp10.000 per buah, mainan tersebut masih memiliki peminat. Nilai yang terjangkau membuat mainan tradisional ini tetap bisa menjadi pilihan masyarakat, terutama bagi mereka yang ingin mengenalkan permainan sederhana kepada anak-anak.