NADIKABAR.COM β Kantor PBB untuk Koordinasi Urusan Kemanusiaan (OCHA) memperingatkan adanya peningkatan risiko penyebaran penyakit di kalangan warga yang mengungsi di tengah eskalasi militer yang terus berlangsung di Yaman.
Melalui pernyataan di platform media sosial X pada Kamis (1/10), OCHA mengatakan bahwa tim kemanusiaan terus memberikan bantuan penting kepada warga sipil yang mengungsi dan terdampak konflik, sembari menyerukan peningkatan bantuan kemanusiaan dan pendanaan.
βNamun, dengan puluhan ribu orang mengungsi dan risiko penyakit yang meningkat, para pekerja kemanusiaan membutuhkan dukungan segera, termasuk pendanaan serta akses yang aman dan tanpa hambatan,β kata OCHA.
Sebelumnya pada Kamis, Unit Eksekutif Pengelolaan Kamp Pengungsian Yaman menyebutkan jumlah orang yang mengungsi akibat eskalasi militer sejak Juli telah mencapai hampir 198.000 orang.
Pengungsian tersebut semakin membebani layanan kesehatan dan kemanusiaan di negara yang telah menghadapi kemerosotan luas sistem layanan kesehatan serta kekurangan pangan, air bersih, dan layanan sanitasi.
Pada akhir bulan lalu, Dana Anak-Anak Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNICEF) memperingatkan bahwa kasus kekurangan gizi akut pada anak-anak meningkat seiring intensifikasi pertempuran.
Pengungsian dan terganggunya akses terhadap layanan kesehatan turut meningkatkan risiko yang dihadapi anak-anak dan keluarga terdampak.
Gelombang pengungsian terbaru tersebut terjadi setelah eskalasi militer yang dimulai pada Juli dan meningkat pada September, setelah sebelumnya sempat terjadi periode relatif tenang pasca gencatan senjata yang dimediasi PBB pada April 2022.
Yaman telah dilanda perang sejak kelompok Houthi merebut ibu kota Sanaa dan sejumlah provinsi pada September 2014. Koalisi negara-negara Arab yang dipimpin Arab Saudi kemudian melakukan intervensi pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yaman.
Penerjemah: Kuntum Khaira Riswan