Teknologi baru seperti AI menurut Schleicher menjadikan siswa lebih banyak menjadi konsumen pengetahuan yang sudah jadi, sehingga tidak tertuntut untuk berpikir kritis, berefleksi, membandingkan, dan memberikan kritik.
"Sayangnya, perubahan perilaku semacam itu tercermin dalam hasil pembelajaran," ucapnya.
Seperti halnya orang yang tidak bugar hanya karena menonton acara olahraga, ia menekankan, siswa juga tidak menjadi cerdas hanya dengan mengonsumsi konten. Untuk itu, butuh usaha lebih besar dalam memproses materi pelajaran agar sekaligus melatih kemampuan bernalar kritis dan berefleksi.
"Sayangnya, banyak aplikasi AI dirancang justru untuk mempermudah hidup kita. Aplikasi-aplikasi tersebut memberikan jawaban siap pakai, alih-alih mendorong siswa untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, dan kemungkinan besar itulah yang tercermin dalam hasil-hasil (PISA) tersebut," ucapnya.
Di sisi lain, Schleicher mengatakan, penggunaan AI justru tampak berkorelasi positif dengan hasil pembelajaran jika siswa secara sengaja diajarkan cara menafsirkan informasi dari AI.
Berdasarkan hasil PISA, siswa yang mengatakan mereka tidak menggunakan AI untuk menyusun teks tugas menulis memiliki prestasi lebih baik daripada mereka yang mengatakan mereka menggunakannya. Namun, di tim redaksi pengguna yang sering, siswa yang menggunakan AI untuk membantu mereka belajar dan diajari cara menilai kualitas informasi yang dihasilkan AI cenderung berprestasi lebih baik daripada mereka yang tidak menerima bimbingan seperti itu.
"Jadi, membekali anak muda dengan tingkat literasi AI yang tepat bisa menjadi penawar terhadap dampak-dampak negatif tersebut," ucapnya.