Menurutnya, TPA Tamangapa memiliki potensi besar karena timbunan sampah telah terbentuk sejak dekade 1990-an. Proses pembusukan sampah organik dalam timbunan tersebut menghasilkan gas metana yang perlu ditangkap dan dikelola.

Ia menjelaskan, gas metana yang berhasil ditangkap dapat memiliki nilai ekonomi apabila memenuhi persyaratan teknis dan mekanisme pengurangan emisi yang berlaku.

Pengurangan emisi tersebut selanjutnya berpotensi dikonversi menjadi instrumen lingkungan berupa kredit karbon (carbon credit).

"Metana yang tadinya bisa terlepas ke atmosfer, dengan kita tangkap, itu bisa kita terbitkan instrumen lingkungan yang namanya carbon credit. Jadi, eksplorasi ini sebenarnya ingin melihat bahwa TPA itu bukan cuma cost, tetapi juga bisa menjadi pendapatan, bisa menjadi PAD," katanya.

Menurut Syiraz, pemanfaatan gas metana sekaligus dapat menjadi bagian dari upaya pengelolaan TPA yang lebih berkelanjutan. Pasalnya, metana merupakan gas rumah kaca yang memiliki dampak pemanasan global yang signifikan.