Ia menjelaskan inisiatif digitalisasi rantai nilai pertanian, seperti pada komoditas unggulan kakao, dilakukan melalui penerapan Enterprise Resource Planning (ERP) serta pemanfaatan credit scoring. Langkah ini dirancang untuk memperluas akses pembiayaan bagi para petani, produsen, hingga pelaku UMKM.
Pemanfaatan credit scoring tersebut nantinya akan membentuk profil kredit petani dan koperasi sehingga penyelenggara jasa keuangan dapat mengaitkan profil tersebut dengan produk pembiayaan yang tepat.
Adi menekankan besarnya potensi ekonomi daerah Sulawesi Tenggara. Pada triwulan II, Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) Sultra mencapai Rp31,22 triliun dengan pertumbuhan ekonomi sebesar 6,19 persen year on year.