NADIKABAR.COM — Olimpiade Madrasah Indonesia (OMI) 2026 mencatat peningkatan partisipasi peserta. Sebanyak 230.123 siswa mendaftar dalam ajang kompetisi yang mempertemukan peserta dari madrasah dan sekolah umum tersebut.
Dari jumlah tersebut, sebanyak 229.593 peserta atau 99,8 persen dinyatakan lolos verifikasi. Jumlah pendaftar ini meningkat 12,7 persen dibandingkan OMI 2025 yang mencatat 204.222 pendaftar. Sementara peserta yang lolos verifikasi tahun lalu berjumlah 202.117 orang.
Salah satu catatan dalam penyelenggaraan OMI 2026 adalah meningkatnya keterlibatan siswa sekolah umum. Sebanyak 13.271 siswa dari jenjang SD, SMP, dan SMA tercatat mengikuti kompetisi tahun ini.
Jumlah tersebut bertambah 3.659 peserta atau 38,1 persen dibandingkan OMI 2025 yang diikuti 9.612 siswa sekolah umum.
Direktur Kurikulum, Sarana, Kelembagaan, dan Kesiswaan (KSKK) Madrasah Nyayu Khodijah mengatakan peningkatan tersebut menunjukkan OMI mulai dikenal lebih luas di luar lingkungan madrasah.
"OMI terus berkembang menjadi ruang kompetisi yang inklusif. Peserta tidak hanya berasal dari madrasah, tetapi juga dari sekolah umum. Ini menunjukkan bahwa semangat untuk berprestasi dan mengembangkan potensi tidak mengenal batas satuan pendidikan," ujar Nyayu Khodijah di Jakarta, Sabtu (5/9/2026).
Partisipasi OMI 2026 tersebar di 34 provinsi. Selain itu, lebih dari 33 ribu lembaga pendidikan tercatat terlibat dalam penyelenggaraan kompetisi tersebut.
Jawa Timur menjadi provinsi dengan peserta terbanyak, yakni 41.685 orang. Jawa Barat berada di urutan berikutnya dengan 32.446 peserta, disusul Jawa Tengah sebanyak 30.518 peserta.
Jika digabungkan, ketiga provinsi tersebut menyumbang 104.649 peserta atau sekitar 45,5 persen dari total peserta OMI 2026.
Di luar Pulau Jawa, Sulawesi Selatan mencatat jumlah peserta tertinggi dengan 12.850 orang. Kemudian Sumatera Utara sebanyak 12.348 peserta dan Riau dengan 8.113 peserta.
Dari sisi jenjang pendidikan, peserta OMI 2026 tersebar cukup merata. MI/SD menyumbang 69.351 peserta, MTs/SMP sebanyak 75.987 peserta, sedangkan MA/SMA mencapai 72.776 peserta.
Menurut Nyayu, komposisi tersebut memperlihatkan bahwa minat terhadap kompetisi dan pembinaan prestasi telah tumbuh sejak pendidikan dasar hingga menengah. Kondisi itu dinilai dapat mendukung pembinaan talenta secara berkelanjutan.
Selain kompetisi sains, OMI 2026 juga menyediakan cabang riset yang mencatat 9.130 pendaftar.
Sebanyak 8.100 peserta telah menyelesaikan pengajuan, sedangkan 1.030 peserta lainnya masih berstatus draft karena belum menyempurnakan proses pendaftaran.
Berdasarkan jenjang pendidikan, pendaftar dari Madrasah Aliyah (MA) mencapai 4.862 orang. Sementara dari Madrasah Tsanawiyah (MTs) terdapat 4.268 pendaftar.
Ekoteologi menjadi bidang riset yang paling banyak diminati dengan 3.553 pendaftar. Berikutnya, Sustainable Development Goals (SDGs) mencatat 3.384 pendaftar dan Transformasi Digital untuk Pembangunan Nasional sebanyak 2.193 pendaftar.
Ketua OMI 2026 Solla Taufiq mengatakan tingginya partisipasi pada cabang riset menjadi sinyal positif bagi perkembangan kompetisi ilmiah di kalangan siswa madrasah.
"Angka ini menunjukkan tingginya minat siswa madrasah untuk mengembangkan kemampuan riset dan menuangkan gagasan ilmiah melalui ajang kompetisi tingkat nasional," ujar Solla Taufiq.
Direktur Jenderal Pendidikan Islam Kementerian Agama Amien Suyitno mengatakan peningkatan jumlah peserta menjadi kabar baik bagi pendidikan madrasah maupun pendidikan Indonesia secara keseluruhan.
"Peningkatan partisipasi ini tentu menjadi kabar baik bagi pendidikan madrasah dan pendidikan Indonesia secara keseluruhan. Bertambahnya peserta berarti semakin banyak potensi dan talenta anak bangsa yang berhasil kita identifikasi dan berikan ruang untuk berkembang," ujar Amien Suyitno.
Amien menilai kompetisi bukan tujuan akhir dari penyelenggaraan OMI. Menurutnya, peserta yang memiliki potensi perlu mendapatkan pembinaan agar kemampuan tersebut dapat berkembang menjadi prestasi.
"Kompetisi adalah salah satu pintu masuk. Yang lebih penting adalah bagaimana kita menemukan anak-anak yang memiliki potensi, kemudian memberikan pembinaan yang tepat agar potensi tersebut berkembang menjadi prestasi," jelas Guru Besar UIN Raden Fatah Palembang.