Dia menjelaskan, pelaksanaan operasi diprioritaskan pada perilaku berkendara yang berisiko membahayakan keselamatan. Pelanggaran tersebut diantaranya melawan arus, tidak menggunakan helm, menerobos lampu merah, menggunakan telepon genggam saat berkendara, hingga melebihi batas kecepatan.

Menurutnya, keberhasilan Operasi Patuh diukur dari perubahan perilaku berkendara masyarakat, bukan semata-mata jumlah penindakan hukum.

"Yang ingin kita wujudkan adalah budaya tertib berlalu lintas yang tumbuh dari kesadaran masyarakat. Ketika setiap orang memahami bahwa aturan lalu lintas bertujuan melindungi keselamatan bersama, kepatuhan akan menjadi bagian dari kebiasaan dalam berkendara sehari-hari," ungkap Trunoyudo.