Tim SAR kembali melakukan penyisiran di sekitar Gunung Anak Krakatau. Salah satu upaya dilakukan dengan mendekatkan peralatan pencarian hingga sekitar 500 meter dari pesisir Gunung Anak Krakatau, termasuk menggunakan drone dan perangkat pencarian laut.

Namun, hasil pencarian tetap nihil. Tidak ada tanda yang dapat memastikan keberadaan kapal maupun delapan orang yang dicari.

Hari kesembilan, area dipersempit dan diperinci

Rabu (16/9), pencarian memasuki hari kesembilan. Strategi kembali diubah dengan membuat penyisiran lebih detail.

Tim SAR mengerahkan 22 kapal dan membagi area pencarian seluas sekitar 3.439 mil laut persegi menjadi delapan sektor. Fokus pencarian diarahkan ke wilayah tenggara Gunung Anak Krakatau berdasarkan perhitungan arus, gelombang dan angin melalui pemodelan SAR.

Sebanyak 570 personel dilibatkan dalam operasi tersebut. Selain pencarian di Selat Sunda, Basarnas juga berkoordinasi dengan Kantor SAR Bengkulu untuk melakukan penyisiran di Pulau Enggano dan pesisir Bengkulu. Hasilnya tetap nihil.

Pada hari kesembilan, tim juga menemukan terpal berwarna hijau sekitar pukul 11.42 WIB. Setelah diperiksa, terpal tersebut dinyatakan tidak berkaitan dengan Arupadatu I karena kapal yang dicari diketahui tidak membawa terpal tersebut.

Hari kesepuluh, operasi SAR resmi dihentikan

Kamis (17/9) menjadi hari ke-10 sekaligus hari terakhir masa perpanjangan operasi SAR.

Tim SAR gabungan kembali memaksimalkan pencarian dengan mengerahkan 24 kapal. Area pencarian diperluas hingga sekitar 8.509 mil laut persegi dan dibagi menjadi 10 sektor.

Pencarian mencakup perairan Selat Sunda, pesisir barat Banten, wilayah barat Sumatra hingga sekitar Pulau Enggano. Sebanyak 523 personel terlibat dalam operasi hari terakhir tersebut. Kondisi cuaca dilaporkan berawan, dengan kecepatan angin sekitar 10 hingga 20 knot dan tinggi gelombang 0,5 hingga 3,5 meter.

Hingga hari terakhir, tidak ada laporan mengenai penemuan kapal, penumpang maupun awak Arupadatu I. Informasi dari masyarakat yang diterima petugas juga telah ditindaklanjuti, tetapi tidak menghasilkan petunjuk mengenai keberadaan rombongan.

Setelah 10 hari pencarian, operasi SAR gabungan resmi dihentikan pada Kamis (17/9). Keputusan tersebut disampaikan Gubernur Banten Andra Soni dalam konferensi pers di Posko Utama SAR Gabungan, Dermaga Marina Carita, Pandeglang.

Selama operasi berlangsung, tim mencatat sedikitnya 13 objek atau material yang ditemukan di area pencarian, termasuk pelampung, terpal, helm dan galon. Namun, setelah dilakukan pemeriksaan, seluruh temuan tersebut tidak terhubung dengan Arupadatu I.

Kepala Kantor Pencarian dan Pertolongan Banten Al Amrad mengatakan penghentian dilakukan karena operasi dinilai sudah tidak efektif setelah melalui masa pencarian awal dan perpanjangan tiga hari.

Meski operasi resmi dihentikan, pemantauan tetap dilakukan. Basarnas akan berkoordinasi dengan Vessel Traffic Service (VTS), TNI AL, Polairud dan kapal-kapal yang melintas di Selat Sunda. Jika muncul informasi atau tanda baru mengenai keberadaan Arupadatu I dan delapan orang di dalamnya, operasi SAR dapat dibuka kembali.

Dengan dihentikannya operasi pada hari ke-10, lima jurnalis dan tiga awak kapal tersebut masih berstatus hilang. Tidak ada satu pun dari delapan orang tersebut yang ditemukan selama rangkaian pencarian sejak 8 hingga 17 September 2026, demikian merangkum berita Antara dan sumber-sumber lain.