Pada Jumat (6/11), Lieberman menegaskan dirinya tetap pada pendiriannya untuk tidak bekerja sama dengan partai-partai Arab Israel. Sebaliknya, dia menyerukan dialog dengan kelompok Yahudi ultra-Ortodoks, dan mengatakan bahwa inilah saatnya untuk "memahami bahwa upaya untuk mendapatkan segalanya justru berisiko membuat kita tidak mendapatkan apa-apa".

"Hal ini menyakitkan bagi saya, dan saya tahu banyak orang lain juga merasakan hal yang sama. Namun, mengingat berbagai tantangan yang kita hadapi saat ini, kepentingan nasional untuk Negara Israel dan bangsa Yahudi harus diutamakan di atas pertimbangan lainnya," ujarnya.

Sementara Eisenkot, dalam pernyataannya, mengatakan bahwa perubahan merupakan hal yang mendesak. Dia menyinggung spekulasi bahwa Netanyahu mungkin akan segera melanjutkan perang melawan Iran, bersama Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump, meskipun kedua pemimpin itu kalah dalam pemilu.

"Pemerintahan saat ini menghadirkan ancaman mendasar terhadap keberlangsungan demokrasi Israel. Ini bukan melebih-lebihkan. Semua ini terjadi di saat berbagai front perang masih terbuka dan justru bergantung pada keinginan politik dan kepentingan pribadi," tandasnya.