"Tentunya akan meningkatkan risiko konflik dengan manusia. Konflik ini ke depannya diprediksi akan menambah tekanan pada populasi orang utan yang sudah sangat sedikit," ungkap Ronny.

Tak hanya manusia, orang utan yang terpapar asap karhutla juga berpotensi mengalami gangguan kesehatan. Ronny menjabarkan bahwa orang utan sangat sensitif terhadap polusi udara.

Partikel miskroskopis PM2.5 dari asap karhutla dapat masuk ke saluran pernapasan hingga alveolus paru-paru. Partikel ini bisa menyebabkan saluran pernapasan hingga paru-paru orang utan radang dan iritasi.

Dalam jangka pendek, paparan ini dapat membuat orang utan kekurangan oksigen, batuk, dan sesak napas. Sedangkan dalam jangka panjang, dampak yang tercipta bisa semakin mengerikan, yakni berpotensi menyebabkan bronkitis dan penyakit paru obstruktif kronis.

Dampak asap juga bisa menggangu metabolisme dan sistem imun orang utan karena stres oksidatif. Akibatnya, mereka bisa tak nafsu makan sehingga lemas, kurang aktif, dan mengalami penurunan berat badan.