Turunnya orang utan ke tanah membuat mereka mengalami luka bakar akibat paparan api. Paparan asap juga memberikan dampak langsung yang dapat mengganggu sistem pernapasan mereka.

Paparan asap karhutla bisa menyebabkan iritasi dan infeksi saluran pernapasan bronkitis. Mereka juga bisa mengalami hipoksia atau kondisi ketika tubuh kekurangan oksigen.

"Kalau kita menghirup udara yang kualitasnya buruk, ya ini bisa berdampak pada gangguan pernapasan. Gangguan pernapasan inilah yang kemudian dapat membuat kita lemas, muntah, kesadaran terganggu, hingga akhirnya pingsan. Pingsan kalau dibiarin terus, ya bisa mati," tegas Wisnu.

Wisnu menilai jumlah satwa liar terdampak karhutla mungkin lebih banyak daripada yang selama ini tercatat. Satwa yang berhasil ditemukan umumnya kebetulan berada di sekitar jalan, perkebunan, atau permukiman, sehingga bisa terdeteksi dan dievakuasi.

Sedangkan, satwa yang terdampak di bagian dalam hutan sulit diketahui kondisinya. Untuk itu, bisa jadi orang utan yang menjadi korban jumlahnya mungkin lebih banyak.

Dengan insting bertahan hidup, orang utan akan mencoba menyelamatkan diri hingga mendekati kawasan permukiman maupun perkebunan. Langkah ini dilakukan mereka untuk mencari makanan dan sumber air.