NADIKABAR.COM β€” Penolakan program makan bergizi gratis (MBG) kembali disuarakan setelah kasus keracunan massal di SMP Negeri 1 Kabuh, Jombang. Kali ini datang dari wali murid yang minta dihentikan daripada membahayakan nyawa anak-anak.

Salah satu wali murid, Dewi Irawati (43) mengaku panik begitu menerima kabar putrinya dilarikan ke Puskesmas Kabuh karena keracunan MBG. Warga Desa Sukodadi, Kecamatan Kabuh ini bergegas ke puskesmas untuk memastikan kondisi buah hatinya, Aisyah Ayudia Inara Suseno.

"Kayak gini kan orang tua ini kan sudah merasakan paniknya, kaya apa mencari anaknya, kondisinya kaya gitu ya," terangnya kepada wartawan di Puskesmas Kabuh, Jumat (4/9/2026).

Dewi bersyukur karena saat ini kondisi anaknya sudah pulih. Siswi kelas 7 SMPN 1 Kabuh ini tidak lagi mual, muntah maupun diare setelah dirawat inap di Puskesmas Kabuh. Belajar dari kasus ini, Dewi berharap MBG dihentikan selamanya.

"Sebetulnya MBG itu endak perlu. Soalnya kan anak-anak itu kan sebetulnya makan juga sudah cukup. Daripada membahayakan, ini kan korbannya kan urusannya nyawa ya. Jadi mending itu diberhentikan saja, diganti program lain yang lebih bermanfaat," ujarnya.

Harapan yang sama disampaikan Reni (35), orang tua Aina Talita, siswi kelas 8G SMPN 1 Kabuh. Ia merasa trauma melihat putrinya keracunan MBG. Betapa tidak, setelah menyantap MBG pada Rabu (2/9) siang, Aina mengeluh sakit perut dan diare sekitar pukul 17.00 WIB.

Keesokan harinya, Kamis (3/9), keluhan tersebut belum reda. Sehingga pelajar asal Desa Sukodadi itu harus dilarikan ke Puskesmas Kabuh untuk dirawat inap. Maka, Reni berharap MBG disetop selamanya untuk meniadakan risiko kesehatan yang sama.

"Kalau menurut saya ya mending (MBG) disetop sajalah, lebih baik itu aja, sudah enggak ada risiko, karena sudah trauma," tegasnya.

Aisyah juga menceritakan pengalaman pahitnya keracunan MBG yang ia makan pada Rabu (2/9) siang. Ia mulai merasakan sakit perut sampai diare sekitar pukul 23.00 WIB. Keesokan harinya, ia memaksakan diri tetap masuk sekolah.

Di tengah olahraga voli di sekolah, perutnya kembali sakit sampai ia muntah. Sehingga dalam kondisi lemas, Aisyah dilarikan ke Puskesmas Kabuh untuk dirawat inap. Kini, ia bersyukur kondisinya sudah membaik karena tak lagi mual, muntah maupun diare.

Pengalaman pahit itu pun menyisakan trauma bagi Aisyah. Sampai ia menolak makan MBG. "Masih trauma, (kalau diberi MBG) Tidak dimakan," tandasnya.

Sebelumnya, keracunan massal ini baru terbongkar Kamis (3/9) pagi. Sebab banyak siswa SMPN 1 Kabuh yang mengalami diare di tengah jam pelajaran. Keluhan mereka tim redaksi lain sakit perut, diare, mual, muntah dan pusing.

Mereka mengalami keracunan setelah menyantap MBG pada Rabu (2/9) siang. MBG dari SPPG Mangunan, Yayasan Sehat Tempat Makan Jakarta itu berupa nasi putih, udang saus padang, tahu susu, pepaya, serta tumis wortel, sawi putih dan brokoli.

Data terbaru yang dirilis Dinas Kesehatan Jombang, total 256 siswa dan 4 guru SMPN 1 Kabuh keracunan MBG. Dari jumlah itu, 175 siswa dan guru pulih karena melakukan pengobatan secara mandiri pada Rabu (2/9). Sedangkan 85 siswa dilarikan ke fasilitas kesehatan karena masih sakit perut, diare, pusing, mual dan muntah pada Kamis (3/9).

Setiap harinya, SPPG Mangunan menyediakan 2.899 porsi MBG untuk 19 sekolah penerima manfaat. Salah satunya untuk 639 siswa, serta 47 guru dan pegawai SMPN 1 Kabuh. Artinya, tidak semua siswa dan guru keracunan setelah memakan MBG tersebut.

Berdasarkan keterangan dari para korban, udang saus padang di MBG yang dimakan para siswa dan guru kemarin siang, diduga menjadi penyebab keracunan massal ini. Sebab udang tersebut mengeluarkan aroma kurang sedap.