NADIKABAR.COM — Ketua Umum Pimpinan Pusat Pagar Nusa M. Nabil Haroen mengajak seluruh elemen bangsa menjadikan peringatan Hari Sumpah Pemuda sebagai momentum memperkuat persatuan dan memperluas kesempatan bagi generasi muda.
“Kita tidak bisa terus meminta pemuda menjadi tulang punggung bangsa, sementara jalan menuju kemandirian mereka masih penuh hambatan,” ujar Nabil di Jakarta, Rabu.
Nabil mengatakan semangat Sumpah Pemuda harus diwujudkan melalui langkah nyata untuk menjawab berbagai persoalan yang dihadapi anak muda, mulai dari akses pendidikan yang terjangkau, kesempatan kerja, ruang berkarya, hingga kesetaraan peluang untuk berkembang.
Menurut dia, semangat cinta tanah air tidak cukup diwujudkan melalui seruan persatuan, tetapi juga harus tercermin dalam kebijakan yang mampu menjawab kebutuhan dan kegelisahan generasi muda.
Nabil menilai pemerintah, dunia usaha, lembaga pendidikan, dan organisasi kemasyarakatan perlu memperkuat kolaborasi untuk memperluas pelatihan yang relevan dengan kebutuhan zaman, menyediakan pekerjaan yang layak, serta mendukung pengembangan usaha yang dirintis anak muda.
Ia juga menekankan pentingnya memastikan kesempatan bagi generasi muda diberikan berdasarkan kemampuan dan integritas.
Selain persoalan pendidikan dan pekerjaan, Nabil mengingatkan pentingnya menjaga semangat persatuan di tengah perkembangan teknologi digital.
“Kemudahan komunikasi melalui teknologi harus diimbangi dengan kemampuan masyarakat untuk menyaring informasi dan menolak provokasi,” katanya.
Ia mengajak generasi muda untuk lebih kritis dalam memeriksa informasi serta menjadikan perbedaan sebagai kekuatan dalam kehidupan bermasyarakat dan berbangsa.
“Persatuan juga harus memberi tempat bagi kritik. Suara anak muda adalah bagian penting dari ikhtiar memperbaiki Indonesia. Dengarkan aspirasinya, libatkan gagasannya, dan beri mereka tanggung jawab yang nyata,” ujarnya.
Dalam konteks pembinaan karakter, Nabil mengatakan nilai-nilai pencak silat dapat menjadi landasan bagi generasi muda untuk membangun keberanian yang disertai pengendalian diri, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.
Ia menjelaskan seorang pendekar tidak hanya dituntut memiliki kemampuan bela diri, tetapi juga menjunjung tinggi prinsip, menghormati perbedaan, dan melindungi pihak yang lemah.