Sebaliknya, over-perception of risk (persepsi risiko yang terlalu tinggi) dapat terjadi ketika informasi yang tidak tepat. Apalagi yang tersebar melalui media sosial, membuat masyarakat menganggap seluruh kawasan atau destinasi tidak aman, meskipun ancaman hanya berada pada radius atau sektor tertentu.

Oleh karenanya, Sari menilai pengelolaan wisata gunung api perlu menggunakan zonasi keselamatan dinamis. Zona wisata yang aman pada satu waktu tidak otomatis aman pada waktu berikutnya sehingga aktivitas wisata harus menyesuaikan ketika rekomendasi ilmiah berubah.

Ia mengatakan informasi dari PVMBG atau Badan Geologi harus menjadi sumber utama pengambilan keputusan dan terhubung dengan pemerintah daerah, BPBD, taman nasional atau pengelola destinasi, operator wisata, dan pemandu.

Selain mekanisme pembatasan aktivitas, pemerintah juga perlu memastikan pelacakan pengunjung, sehingga dapat diketahui siapa yang masuk, jumlah wisatawan, jalur yang digunakan, pemandu, waktu masuk, dan waktu wisatawan seharusnya kembali.

Kesiapan evakuasi juga perlu diuji melalui rambu, titik kumpul, jalur evakuasi, komunikasi darurat, dan simulasi. Dia menilai keberadaan jalur evakuasi tidak cukup jika wisatawan tidak mengetahui arah yang harus dituju ketika keadaan darurat terjadi.