Situasi serupa juga terjadi pada pemilu paruh waktu Amerika Serikat (AS) yang akan berlangsung pada 3 November. Presiden AS Donald Trump sudah memberikan suara lebih awal, yang disebut Andrea akan semakin menentukan arah dukungan legislatif terhadap kebijakan luar negeri Washington.

Jika Kongres terbelah, maka komitmen AS di BoP bisa lebih fluktuatif, terutama dalam isu pendanaan dan pengerahan pasukan, sambungnya.

Merujuk pada situasi tersebut, Andrea menyarankan agar pemerintah kembali mengevaluasi keanggotaan di BoP. Dirinya juga menekankan bahwa Indonesia harus menegaskan prinsip bebas-aktif: tetap mendukung perdamaian, tetapi tidak terjebak dalam rivalitas internal Israel maupun dinamika politik AS.

“BoP hanya relevan jika mampu menjaga konsistensi, sementara Indonesia harus memastikan keanggotaan tidak menggerus prinsip bebas aktif,” tegasnya.