Tren penurunan terjadi pada Mei (106,56 dolar AS per barel), Juni (83,45 dolar AS per barel), Juli (81,68 dolar AS per barel); sebelum kembali meningkat pada Agustus menjadi 89,43 dolar AS per barel.

Yayan menaksir ICP pada September berada di rentang 100–104 dolar AS, berdasarkan harga Brent September dan selisih Brent-ICP dengan kisaran 1,9 dolar AS per barel.

“Oleh karena itu, rata-rata ICP Januari–September sekitar 90,6 dolar AS per barel, 29 persen di atas asumsi APBN sebesar 70 dolar AS per barel,” kata Yayan.

Ia menghitung beban subsidi untuk pertalite, solar, dan LPG 3 kg sepanjang 2026 akan berada di kisaran Rp426 triliun. Yayan menyampaikan angka tersebut lahir dari harga keekonomian dikurangi harga jual dan dikalikan volume yang disalurkan.