Secara rinci, beban subsidi untuk pertalite sepanjang 2026 diperkirakan sebesar Rp122 triliun, komoditas solar sebesar Rp206 triliun, dan LPG sebesar Rp98 triliun.
Yayan menjelaskan, solar menempati posisi tertinggi sebab harga solar olahan di pasar Asia melonjak jauh lebih tinggi daripada minyak mentah. Akibatnya, subsidi untuk setiap liter solar diperkirakan naik ke sekitar Rp11.100βRp12.600 pada Agustus-Desember, lebih dari dua kali angka yang direncanakan APBN, yakni sebesar Rp5.150 per liter.
βYang sebaiknya dilakukan untuk jangka pendek adalah menyisihkan sebagian tambahan penerimaan dari harga komoditas sebagai cadangan menghadapi guncangan minyak akhir tahun. Perketat penyaluran solar dan LPG 3 kg agar volume tidak terus melampaui kuota,β ujar dia.
Sedangkan, untuk solusi jangka menengah, ia menyarankan untuk menajamkan sasaran subsidi energi dengan perhatian khusus pada solar.