Hadir di acara yang sama, pakar konservasi dan ilmuwan biologi, Prof Drs Jatna Supriatna MSc PhD, menegaskan karhutla merupakan ancaman terbesar bagi keanekaragaman hayati Indonesia. Termasuk di dalamnya, satwa liar seperti orang utan di Kalimantan.
"Sangat besar sekali (ancaman karhutla bagi keanekaragaman hayati RI). Ini karena apa? Karena hasil penelitian banyak ya bahwa orang utan semuanya ada di kanopi, di pohon-pohon itu kan nggak bisa kemana-mana, dia larinya ke mana lagi," kata Jatna.
Melengkapi, Gono membenarkan bila orang utan sangat bergantung pada pohon tinggi. Untuk bisa berpindah, satu pohon dan pohon lainnya harus punya dahan yang saling menyambung.
"Untuk berpindah, itu kan perlu kanopi yang tinggi, yang saling ada punya connectivity di tim redaksi dahannya. Sekarang harus kita lihat, apakah connectivity antar dahan di percabangan, di puncak sana itu ada atau tidak," ujar dia.
"Kalau tidak ada, biar kata di situ ada 100 tegakan atau pohon tapi tidak ada connectivitas, berarti habitat dari orang utannya ya sudah hilang," kata pakar di bidang satwa liar itu.
Ya, karhutla di Kalimantan telah merembet ke berbagai wilayah, termasuk Malaysia. Dengan insting bertahan hidup, satwa bisa melarikan diri ke mana saja, baik ke permukiman warga hingga negara tetangga.