Ia menilai karakter media sosial yang mengutamakan interaksi membuat konten kontroversial dan perdebatan politik lebih mudah mendapatkan perhatian. Akibatnya, suara kelompok yang vokal bisa terlihat lebih dominan dibandingkan suara masyarakat secara keseluruhan.
"Suara yang terdengar paling keras di media sosial belum tentu mewakili mayoritas sesungguhnya," ujarnya.
Di tengah berbagai polemik tersebut, Chamad menyoroti hasil survei yang menunjukkan elektabilitas Gibran justru mengalami peningkatan.
Survei SMRC pada 1-10 Oktober 2026 mencatat elektabilitas Gibran mencapai 8,4 persen dalam simulasi semi-terbuka terhadap 24 nama calon presiden. Angka itu menempatkannya di posisi keempat.
Capaian tersebut meningkat dibandingkan hasil survei November 2025 sebesar 5,1 persen, Februari-Maret 2026 sebesar 6,8 persen, dan Juli 2026 sebesar 7,7 persen.