"Perkembangan tersebut menjadi salah satu indikator bahwa Gibran tetap memiliki daya tawar politik di tengah berbagai kritik yang diarahkan kepadanya," ucap Chamad.
Chamad mengatakan derasnya kritik terhadap seorang tokoh politik tidak selalu berujung pada penurunan elektabilitas. Dalam kondisi tertentu, serangan yang ditujukan untuk meredupkan citra seorang figur justru bisa memperluas pengenalan masyarakat terhadap sosok tersebut.
Meski demikian, ia mengingatkan popularitas dan meningkatnya perhatian publik tidak otomatis berbanding lurus dengan dukungan politik.
"Posisi strategis Gibran tetap harus diimbangi dengan pembuktian kinerja, kapasitas kepemimpinan, dan akuntabilitas sebagai wakil presiden," tutur dia.
Dengan sejumlah modal politik tersebut, Gibran diperkirakan tetap menjadi figur yang masuk dalam kalkulasi elite politik nasional. Tantangannya adalah membuktikan kapasitas kepemimpinan sekaligus menjaga kepercayaan publik di tengah kritik dan serangan politik yang terus mengiringinya.