NADIKABAR.COM — Pakar ekonomi Universitas Jember (Unej) Dr Ciplis Gema Qori’ah menilai bahwa transisi energi merupakan investasi untuk mengurangi kerentanan ekonomi, sehingga mendorong pemerintah melakukan percepatan transisi energi di tengah lonjakan harga minyak dunia yang berdampak luas pada perekonomian nasional.
Berdasarkan data APBN 2026 yang menggunakan asumsi harga minyak mentah Indonesia atau Indonesian Crude Price (ICP) sebesar 70 dolar AS per barel, secara rata-rata ICP bulanan sepanjang bulan Januari–Agustus 2026 mencapai 89,24 dolar AS per barel, sehingga selisih itu memperlihatkan betapa rentannya anggaran dan daya beli masyarakat terhadap gejolak energi global.
"Situasi itu memberi alasan kuat bahwa percepatan transisi energi urgen untuk dilakukan. Hasilnya, akan terlihat dalam perekonomian yang akan mampu mengurangi kerentanan terhadap harga bahan bakar fosil, menjaga keterjangkauan energi hingga membuka sumber pertumbuhan baru," kata Ciplis Gema Qori'ah di Kabupaten Jember, Jawa Timur, Kamis.
Ia mengatakan faktor utama dalam mengimplementasikan transisi energi adalah reformasi subsidi dengan investasi ketahanan energi, kemudian sebagian penghematan perlu diarahkan pada perlindungan rumah tangga rentan, transportasi umum, efisiensi energi dan infrastruktur listrik bersih.