"Untuk menekan ketergantungan minyak pada transportasi, langkah itu perlu disertai elektrifikasi yang terjangkau serta perbaikan layanan angkutan umum. Pengembangan energi terbarukan tentu akan mengurangi penggunaan fosil dalam pembangkitan," tuturnya.

Dosen Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unej itu mengatakan peta jalan transisi energi sektor ketenagalistrikan perlu diterjemahkan ke dalam keputusan proyek yang menjelaskan kewajiban kontrak, biaya penghentian operasi, serta pembagian risiko aset terdampak, yakni aset yang kehilangan nilai ekonominya sebelum akhir umur operasi.

"Penyelesaiannya harus menjaga akuntabilitas penggunaan dana publik. Di daerah penghasil batu bara, dukungan transisi perlu terhubung dengan rencana pembangunan dan diversifikasi sumber pendapatan," tuturnya.

Pemerintah daerah, pekerja, pelaku usaha, serta warga terdampak harus terlibat sejak penentuan jadwal perubahan. Pemantauan kemudian mencakup penyerapan tenaga kerja, perubahan pendapatan rumah tangga, keterjangkauan tarif dan pengurangan emisi. Indikator per wilayah membuat ketimpangan dampak sangat signifikan dan memungkinkan kebijakan diperbaiki lebih cepat.