Ia mencontohkan kunyit asam yang dapat dikonsumsi dalam jumlah wajar. Namun, konsumsi perlu dihentikan apabila menimbulkan reaksi alergi.

Djoko juga meminta masyarakat tidak mudah percaya pada informasi pengobatan tradisional yang beredar di media sosial. Menurutnya, informasi mengenai khasiat tanaman obat perlu dilihat berdasarkan pengetahuan dan keamanan penggunaannya.

"Masyarakat perlu mengenal pemanfaatan tumbuhan obat yang berada di sekitar lingkungan masing-masing," jelasnya.

Workshop tersebut tidak hanya membahas pemanfaatan tanaman obat dan jamu, tetapi juga kesehatan mental. Djoko menyampaikan pentingnya menjaga kesehatan jiwa melalui interaksi sosial dan keterlibatan dalam aktivitas bersama masyarakat.

Menurutnya, kegiatan seperti berinteraksi dalam komunitas, mengikuti pengajian dan arisan, hingga bercocok tanam dapat menjadi aktivitas yang mendukung kesehatan mental.

Ketua PKK Padukuhan Karanggayam, Wiwik Dwi Karyawati, menyambut baik kegiatan edukasi tersebut. Ia menilai kehadiran UGM memberikan tambahan wawasan kepada masyarakat, khususnya mengenai kesehatan mental dan pemanfaatan jamu yang telah menjadi bagian dari budaya masyarakat.

"Kegiatan ini merupakan kegiatan yang sangat positif sekali karena dari kita, ibu-ibu, bisa mendapatkan tambahan wawasan yang lebih luas lagi. Seperti materi pada sore hari ini terkait dengan kesehatan mental dengan jamu," ungkap Wiwik.

Wiwik berharap kegiatan serupa dapat terus dilaksanakan. Menurutnya, pendampingan langsung dari perguruan tinggi memberikan manfaat karena pengetahuan yang diperoleh masyarakat dapat diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.