"Untuk program ini saya berharap juga akan terus dilanjutkan lagi karena memang benar-benar sangat berdampak. Jadi, dari kampus dan juga bisa langsung berdampak ke warga masyarakat," katanya.

Koordinator Kegiatan Edukasi dan Sosialisasi Pengabdian kepada Masyarakat Fakultas Biologi UGM, Dr. Dra. Raden Roro Upiek, mengatakan Catur Tunggal dipilih sebagai salah satu wilayah pembinaan setelah pihak kelurahan menyampaikan keinginan agar wilayah tersebut mendapatkan pendampingan dari Fakultas Biologi UGM.

Pendampingan dilakukan secara bertahap melalui konsep 'road to dusun', yakni bergerak dari satu dusun ke dusun lainnya.

Upiek mengatakan program pembinaan Fakultas Biologi UGM di Catur Tunggal ke depan akan diarahkan ke dusun-dusun lainnya. Salah satu dusun binaan sebelumnya, Mrican, disebut telah dinilai mandiri sehingga pendampingan dapat dilanjutkan ke wilayah lain.

"Terdapat 20 dusun di Catur Tunggal, pendekatan road to dusun diharapkan dapat memperluas jangkauan program pembinaan," ujarnya.

Melalui kegiatan 'Racik Rasa dan Rawat Jiwa' yang digelar di Balai Padukuhan Karanggayam, Catur Tunggal, Sleman, Sabtu (5/9), kolaborasi Fakultas Farmasi dan Fakultas Biologi UGM bersama masyarakat Karanggayam menjadi bagian dari upaya mendekatkan pengetahuan akademik dengan kebutuhan masyarakat.

Kegiatan tersebut sekaligus menjadi bagian dari pembinaan desa mitra melalui edukasi kesehatan, pemanfaatan potensi lokal, dan pemberdayaan masyarakat secara berkelanjutan.