Namun, jika batuk mulai mengeluarkan dahak berwarna hijau, hal tersebut menandakan adanya infiltrasi sel neutrofil dan enzim mieloperoksidase sebagai respons terhadap iritasi kronis atau infeksi sekunder, sebuah kondisi yang kerap dipicu oleh paparan materi partikulat polusi.

"Kalau sudah lebih dari 10 hari, demam, pilek, dan batuk tidak kunjung membaik, itu pasti bukan influenza. Influenza memiliki masa inkubasi yang cepat dan biasanya membaik dalam kurun waktu tersebut. Jika dibiarkan tanpa penanganan tepat, kondisi akibat paparan polusi ini bisa memicu komplikasi yang jauh lebih berat," tegas dr Sukamto dalam perbincangan dengan NadiKabar.com beberapa waktu lalu.

Di sisi lain, Dr Neetu Jain, konsultan pulmonologi PSRI Hospital India mengatakan bahwa polutan PM 2.5 akibat polusi udara memicu penyempitan saluran napas dengan mengaktifkan reseptor saraf tepi di bronkus sehingga memicu batuk terus menerus.

"Penelitan telah menunjukkan adanya hubungan yang signifikan tim redaksi kondisi ini, terutama terkait partikel dengan diameter aerodinamis kurang dari 2,5 mikrometer, yang umum disebut sebagai PM 2,5, dengan masalah batuk," ujar Dr Neetu Jain kepada India Today.

Batuk merupakan respons alami tubuh terhadap iritasi pada tenggorokan atau saluran pernapasan. Ketika zat iritan memicu sensasi tersebut, saraf akan teraktivasi dan mengirimkan sinyal ke otak. Sebagai responsnya, otak memerintahkan otot-otot di dada dan perut untuk mengembuskan udara dengan kuat guna membantu mengeluarkan zat iritan tersebut.