Pada Rabu (07/10), Arab Saudi kembali berhasil mencegat sebuah rudal balistik di wilayah utara Riyadh. Sebelumnya di pekan yang sama, pasukan pemerintah Yaman yang didukung Arab Saudi meluncurkan operasi militer berskala besar untuk merebut kembali wilayah di sepanjang pantai Laut Merah, khususnya di sekitar Selat Bab el-Mandeb dan kota Mokha. Arab Saudi juga ikut melancarkan serangan udara untuk mendukung operasi tersebut.

Terkait ruang lingkup dalam pengerahan militer, Turki masih belum memberikan kejelasan. Turki merupakan anggota NATO, yang berarti keterlibatan militernya dapat membawa implikasi yang lebih luas bagi seluruh aliansi tersebut.

Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan menyatakan bahwa setelah pertemuan di Riyadh, bukan hanya opsi militer yang dibahas. Ia menyampaikan, "Kami juga mendiskusikan apa yang dapat dilakukan untuk menyelesaikan masalah ini secara damai melalui dialog."

Keterlibatan Turki dalam perjanjian pertahanan Makkah menuai kritik dari partai-partai oposisi di negara tersebut. Berdasarkan konstitusi negara tersebut, perjanjian internasional umumnya memerlukan persetujuan Majelis Nasional Agung Turki, namun persetujuan itu belum diberikan.

"Bagaimana mungkin perjanjian pertahanan bersama Makkah tersebut dapat berlaku dan dijalankan tanpa terlebih dahulu diajukan kepada parlemen Turki untuk mendapatkan persetujuan?" ujar Namik Tan, anggota parlemen dari Istanbul yang berasal dari partai sosial demokrat Yeni Parti, yang juga mantan duta besar Turki untuk Israel dan Amerika Serikat.

Laksamana purnawirawan Turki, Yani Bagcioglu, juga memperingatkan, "Kita tidak boleh mengabaikan risiko bahwa pasukan Turki dan kapal-kapal komersial yang terkait dengan Turki bisa menjadi sasaran serangan Houthi."

Setelah penandatanganan perjanjian tersebut, Pakistan menghadapi dilema tersendiri.

Pada Senin (05/10), Menteri Pertahanan Pakistan, Khawaja Muhammad Asif mengatakan kepada saluran televisi Geo News bahwa Pakistan dan Turki berperan sebagai pihak pendukung. Mereka akan menurunkan pasukannya dalam kegiatan pengintaian dan tugas lainnya, sementara pasukan Arab Saudi akan menjalankan operasi tempur.