Dalam rencana jangka panjang yang dipaparkannya, kontribusi pasokan dari kemitraan ditargetkan meningkat menjadi 45 persen dalam jangka menengah dan mencapai 85 persen pada 2030.
Untuk 2026, Regional III memproyeksikan produktivitas kebun mencapai 24,5 ton per hektare, sedangkan pembelian TBS dari kemitraan PSR ditargetkan mencapai satu juta ton.
"Dari sisi kemitraan, pembelian TBS dari program PSR ditargetkan mencapai satu juta ton, melampaui rata-rata tahun sebelumnya yang berada di kisaran 900 ribu ton," ujar Sori.
Sori mengatakan peningkatan produktivitas dan pembelian TBS tersebut diharapkan turut menopang estimasi laba perusahaan sebesar Rp3,1 triliun pada 2026.
Ia menambahkan peningkatan penyerapan hasil panen perlu disertai upaya menjaga harga pembelian TBS agar tetap bersaing di tengah fluktuasi harga minyak sawit mentah (crude palm oil/CPO).
"Kami berupaya menjaga harga beli di tingkat petani tetap stabil dan bersaing," katanya.
Menurut Sori, kepastian penyerapan hasil panen menjadi salah satu faktor penting bagi petani untuk menjaga keberlangsungan usaha, sementara bagi perusahaan kemitraan tersebut dapat memperkuat kesinambungan pasokan bahan baku.